Gorontalo.tv.Pohuwato – Penutupan sejumlah toko jual beli emas di Kabupaten Pohuwato mulai berdampak langsung pada masyarakat, khususnya para penambang yang menggantungkan penghasilan dari hasil tambang emas. Kondisi ini memicu kekhawatiran warga, terlebih menjelang Hari Raya Idulfitri yang membutuhkan biaya tambahan untuk berbagai keperluan.
Menanggapi situasi tersebut, Ketua DPRD Pohuwato, Beni Nento, menyatakan bahwa pihaknya tengah berupaya mencari solusi atas persoalan yang membuat para penambang kesulitan menjual emas mereka.
Menurut Beni, DPRD turut memberikan perhatian serius terhadap kondisi yang terjadi di tengah masyarakat. Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi yang berkembang di media, terdapat kasus di Surabaya yang diduga berdampak pada aktivitas jual beli emas di berbagai daerah, termasuk Gorontalo.
“Jadi begini, torang juga rasa perhatian seperti itu. Setelah kami cek di media online maupun televisi, ternyata ada kasus di Surabaya. Nah, kasus itu bisa berefek ke seluruh daerah, baik ke Makassar maupun Gorontalo, mungkin karena satu jaringan atau satu bos,” ujar Beni.
Ia menjelaskan bahwa kasus tersebut membuat para pembeli emas di sejumlah daerah menjadi waswas untuk melanjutkan aktivitas transaksi. Padahal, di Gorontalo sendiri tidak ada persoalan langsung yang berkaitan dengan kasus tersebut.
“Karena sudah ada ancaman-ancaman terkait jual beli emas ilegal yang tidak ada izin dan sebagainya, jadi hampir rata-rata semua takut. Padahal di Gorontalo tidak ada apa-apa,” tambahnya.
Beni juga mengaku pihaknya telah menerima berbagai laporan dari masyarakat terkait sulitnya menjual emas dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, fenomena menukar emas dengan kebutuhan pokok mulai muncul di media sosial.
“Sekitar tiga hari lalu sudah kami dengar, masyarakat setengah mati mau jual emas. Di media sosial juga ada yang sampai menukar emas dengan beras dan kebutuhan lainnya,” ungkapnya.
Untuk mencari jalan keluar, DPRD Pohuwato saat ini tengah melakukan komunikasi dan diskusi dengan sejumlah pihak terkait, termasuk di tingkat pusat. Beni menyebut dirinya bersama pihak terkait sedang berada di Jakarta untuk membahas persoalan tersebut.
“Ini sementara kami diskusikan, kebetulan kami ada di Jakarta dan akan membahas hal ini dengan Pak Syarif. Termasuk soal jual beli emas ini,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa DPRD akan berupaya mencarikan solusi agar aktivitas jual beli emas dapat kembali berjalan normal, sehingga para penambang tidak terus dirugikan.
“Persoalannya sekarang, kenapa pembeli emas itu tiba-tiba berhenti. Dari situ torang harus cari tahu dan mencarikan solusinya. Karena ini bukan hanya di Pohuwato, dari Hulawa sampai seluruh Gorontalo, bahkan Makassar juga demikian,” tutup Beni.
DPRD berharap persoalan ini dapat segera menemukan titik terang, mengingat mayoritas penambang merupakan masyarakat yang tengah mempersiapkan kebutuhan menjelang Idulfitri. Dengan adanya solusi, diharapkan roda ekonomi masyarakat kembali berjalan dan kebutuhan lebaran dapat terpenuhi. (ars)












