GOTV.Bone Bolango – Pemerintah Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, bergerak cepat mengawal pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tim Satuan Tugas (Satgas) MBG setempat menerjunkan tim untuk melakukan monitoring dan evaluasi (monev) langsung di 14 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di wilayah tersebut.
Ketua Tim Satgas MBG Bone Bolango, Iwan Mustapa, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar agenda rutin pengawasan. Menurutnya, pemantauan ketat ini dilakukan demi memastikan program berjalan sesuai standar dan tepat sasaran.
“Tim Satgas melakukan pemeriksaan menyeluruh, mulai dari proses distribusi makanan, kualitas pelayanan, kebersihan, administrasi, hingga kesiapan sumber daya di masing-masing SPPG,” kata Iwan kepada wartawan, Kamis (8/5/2026).
Iwan menjelaskan, turun langsung ke lapangan sangat penting untuk melihat kondisi riil di lapangan. Dengan begitu, pemerintah daerah bisa langsung memetakan tantangan yang dihadapi oleh para pengelola SPPG.
Lebih dari sekadar pemenuhan gizi, Iwan menyebut keberadaan SPPG ini mulai membawa dampak positif (multiplier effect) bagi lingkungan sekitar, terutama dalam menggerakkan roda ekonomi lokal.
“Perputaran ekonomi daerah juga ikut terdorong melalui pengadaan bahan pangan lokal, jasa distribusi, dan pemberdayaan tenaga kerja setempat. Program ini perlahan ikut melibatkan pelaku UMKM, membuka peluang usaha baru, hingga menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar,” ungkapnya.
Dari sisi sosial, program MBG ini juga diklaim mulai meningkatkan kesadaran warga Bone Bolango akan pentingnya pola makan sehat dan gizi seimbang.
Meski menunjukkan tren positif, Tim Satgas MBG tetap memberikan sejumlah catatan evaluasi dan pembinaan kepada para pengelola SPPG. Ada beberapa poin krusial yang menjadi fokus pembenahan demi pelayanan yang lebih optimal.
“Fokus utama diarahkan pada peningkatan kualitas makanan, higienitas, disiplin pelayanan, serta ketepatan waktu distribusi,” tegas Iwan.
Pemerintah Kabupaten Bone Bolango berharap, SPPG ini ke depan tidak hanya menjadi pusat pemenuhan gizi, tetapi menjelma sebagai instrumen strategis untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia (SDM) sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.


















