GOTV.Bone Bolango – Pemerintah Kabupaten Bone Bolango memastikan rencana pembangunan akses jalan Tulabolo-Pinogu tidak hanya berorientasi pada keterhubungan wilayah. Aspek perlindungan lingkungan dan kelestarian ekosistem turut menjadi perhatian utama dalam proses perencanaannya.
Pemkab Bone Bolango menggandeng akademisi untuk melakukan survei ekologis sebelum desain jalan ditetapkan. Kajian tersebut mencakup pemetaan habitat satwa, koridor perlintasan satwa liar, sumber air yang digunakan satwa, hingga keberadaan flora endemik di kawasan Taman Nasional Nani Wartabone.
Komitmen itu disampaikan dalam pembahasan Survei Ekologis Koridor Satwa, Habitat, Lintas Satwa dan Flora Endemik pada ruas jalan Tulabolo-Pinogu di Bappeda Litbang Kabupaten Bone Bolango, Selasa (21/7/2026).
Sekretaris Daerah Bone Bolango Iwan Mustapa mengatakan pembangunan akses menuju Kecamatan Pinogu merupakan kebutuhan strategis masyarakat yang telah lama dinantikan.
Namun, menurutnya, pembangunan jalan tersebut harus direncanakan dengan mempertimbangkan kondisi ekologis karena berada di kawasan dengan keanekaragaman hayati yang tinggi.
“Jalan Tulabolo-Pinogu ini penting bagi masyarakat dan menjadi kepentingan bersama. Tetapi dalam perencanaannya kita wajib memperhatikan kepentingan ekologis yang harus dilindungi,” kata Iwan.
Iwan menjelaskan survei ekologis menjadi instrumen penting untuk mengidentifikasi potensi dampak lingkungan sekaligus menentukan langkah mitigasi sebelum pembangunan dilaksanakan.
Hasil survei nantinya akan menjadi salah satu dasar dalam menentukan desain teknis jalan, pola penanganan kawasan, serta upaya perlindungan terhadap ekosistem di sepanjang koridor pembangunan.
“Survei ini akan menjadi bahan pertimbangan untuk memitigasi berbagai risiko yang mungkin muncul ketika akses jalan dibuka. Semua masukan yang diperoleh akan menjadi poin penting dalam penyusunan desain dan pengelolaan jalan ke depan,” jelasnya.
Saat ini, tahapan yang dilakukan masih berupa rancangan awal. Selanjutnya, tim ekologi yang melibatkan akademisi dari perguruan tinggi akan turun langsung ke lapangan untuk melakukan kajian lebih mendalam.
Tim akan memetakan jalur habitat satwa, koridor perlintasan satwa liar, lokasi sumber air, hingga titik-titik yang membutuhkan perlindungan khusus.
“Hasil survei lapangan ini nantinya akan menjawab bagaimana desain jalan yang paling tepat, perlakuan terhadap kawasan seperti apa yang harus dilakukan, serta langkah-langkah mitigasi yang diperlukan agar pembangunan tetap berjalan tanpa mengganggu ekosistem lingkungan di kawasan Taman Nasional Nani Wartabone,” ungkap Iwan.
Pemkab Bone Bolango berharap pembangunan akses Tulabolo-Pinogu dapat menjadi contoh pembangunan infrastruktur yang menerapkan prinsip keberlanjutan. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa mengesampingkan kelestarian lingkungan dan habitat satwa endemik di kawasan Taman Nasional Nani Wartabone.


















