Gorontalo.tv.Deprov – Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Gorontalo Sintje Kadji menilai, bahwa terjadinya permasalahan pertambangan di Kabupaten Pohuwato yang menyebabkan rusaknya sejumlah fasilitas milik Pemerintah Daerah karena aksi anarkis yang dilakukan oleh para penambang Pohuwato, disebabkan karena lemahnya Pemerintah daerah dalam mengambil sebuah keputusan.
Hal ini diungkapkan Sintje Kadji disaat menjadi narasumber Dialog Interaktif “Kopi Dimodupo”, DPRD Provinsi Gorontalo menyapa rakyat, yang berlangsung di Desa Bandungan, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo. Minggu (15 Oktober 2023)
Didepan peserta Dialog Interaktif “Kopi Dimodupo”, DPRD Provinsi Gorontalo menyapa rakyat, sebenarnya yang terjadi di Pohuwato saat ini Pemerintah Daerah sendiri yang kurang melibatkan tokoh-tokoh masyarakat dalam mengambil sebuah keputusan.
“Apa sebenarnya yang terjadi di Pohuwato, saya orang Pohuwato asli, dimana kasus yang terjadi di Pohuwato, itu karena Pemerintah Daerah tidak melibatkan lagi tokoh-tokoh masyarakat lagi terutama LSM,”jelas Sintje Kadji
“Nanti setelah kacau baru diundang, makanya waktu rapat yang dipimpin Gubernur, Kapolda dan Danrem saya satu-satunya yang diundang tokoh perempuan,”ujarnya
Iapun menjelaskan, bahwa kehadiran dirinya yang diundang oleh Forkopimda Provinsi Gorontalo dalam penyelesaian masalah Pohuwato, karena menurutnya, dirinyalah salah satu perempuan yang ikut berperan dalam meperjuangkan pemekaran sehingga menjadi Kabupaten Pohuwato.
“Saya sungguh sedih, Pohuwato hancur karena Pemerintah Dearah kurang memperkirakan keadaan, perkiraan keadaan tidak ada, sementara tahu disana ada demo,” ungkap Sintje
Apalagi menurut Politikus gender ini, saat ini mengahadapi pelaksanaan Pemilu yang tinggal menghitung hari, makanya ia berpesan agar Pemerintah daerah cepat tanggap terhadap setiap permasalahan yang ada.
“Terjadinya masalah pembakaran kantor Bupati Pohuwato oleh sejumlah masa adalah suatu kelemahan bagi kita, karena waktu itu yang memberikan rekomendasi adalah pak Bupati Zainudin Hasan dan Pak Gubernur Rusli Habibie di tahun 2016 saat itu, dimana saat itu, kita tidak pernah dilibatkan, padahal kami yang berjuang sampai dapat Pohuwato, baru nanti sudah hancur baru dilibatkan,’ sesal Sintje Kadji (Ricky/adv)


















