GORONTALO.TV.Kota – Perayaan Tumbilotohe atau malam pasang lampu yang jatuh pada malam ke 27 di Bulan Suci Ramadhan, sudah menjadi tradisi masyarakat gorontalo secara turun temurun. Tradisi ini dilakukan pada tiga malam terakhir menjelang perayaan Idul Fitri dengan menyalakan lampu dari minyak sebagai tanda untuk melepas Ramadhan.
Tradisi malam pasang lampu sendiri sudah berlangsung sejak abad ke-15, dimana pada masa itu lampu penerangan masih minim, untuk meneranginya masyarakat gorontalo dahalu membuat lampu penerang yang berbahan wamuta atau seludang yang dihaluskan dan diruncingkan lalu kemudian dibakar. Namun di tahun-tahun berikutnya alat penerangan tersebut mulai menggunakan tohetutu atau damar, yakni semacam getah padat yang akan menyala apabila dibakar dan bertahan cukup lama.
Zaman terus berubah, bahan lampu tersebut mulai diganti dengan minyak tanah hingga saat ini. Bahkan dibeberapa tempat juga menggunakan lampu LED sebagai gantinya. Hal ini dilakukan masyarakat hanya untuk memeriahkan tradisi Tumbilotohe, bahkan Pemerintah gorontalo sering mengadakan kegiatan seperti pawai obor, lomba Tumbilotohe atau festival Tumbilotohe.
Dimasa pandemic saat ini, kegiatan Perayaan Tumbilotohe digelar secara sederhana, bahkan Pemerintah gorontalo meniadakan festival Tumbilotohe yang digelar setiap tahunnya.
Sekalipun masyarakat ada yang merayakan kegiatan Tumbilotohe dimasa pandemic saat ini, mereka mengaku tetap mematuhi protokol kesehatan secara ketat.
Gemerlap lentera yang banyak digantung pada kerangka-kerangka kayu yang dibentuk unik menyerupai kubah masjid, kaligrafi, kitab suci Al-Quran dan tulisan unik lainnya di masa Pandemi mulai berkurang, namun makna dari tradisi adat Tumbilotohe ini tetap menyala di dalam hati masyarakat Gorontalo yang tidak pernah terlupakan, harus di jaga dan dipelihara.
Dari kota gorontalo//sukarno melaporkan//


















