Gorontalo TV. Pohuwato — Malam itu, meja domino di Kabupaten Pohuwato bukan sekadar menjadi tempat menaruh kartu. Di sana, strategi, konsentrasi, dan sedikit keberuntungan berpadu dalam satu pertandingan yang menentukan siapa yang pulang membawa gelar juara.
Turnamen domino dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Kabupaten Pohuwato akhirnya resmi berakhir pada Kamis malam (13/8/2026).
Pertandingan penentuan berlangsung sengit. Peserta dari berbagai unsur harus melewati sejumlah babak sebelum akhirnya nama-nama pemenang ditetapkan, baik pada kategori single maupun double.
Pada kategori single, Anggota DPRD Pohuwato, Suharto Monoarfa, berhasil keluar sebagai juara pertama. Posisi kedua ditempati Alfons dari Dinas Perhubungan, sementara Nasir Giasi yang mewakili Dinas Pangan berada di posisi ketiga.
Menariknya, posisi keempat ditempati Bupati Pohuwato, Saipul A. Mbuinga.
Sementara pada kategori double, giliran Bupati Saipul A. Mbuinga yang tampil sebagai juara pertama. Wakil Bupati Pohuwato, Iwan S. Adam, menyusul di posisi kedua. Juara ketiga diraih pasangan dari Dinas PUPR, sedangkan pasangan dari Bank SulutGo Cabang Marisa menempati posisi keempat.
Sebelum sampai pada partai final, pertandingan terlebih dahulu memasuki babak semifinal kategori double. Empat meja disiapkan panitia bagi peserta yang sebelumnya berhasil lolos dari putaran enam besar pada Selasa (11/8/2026).
Di setiap meja, permainan berlangsung cukup alot. Tidak ada kartu yang boleh dikeluarkan sembarangan. Peserta harus membaca kemungkinan kartu lawan, menghitung peluang, sekaligus menjaga agar langkah yang diambil tidak justru membuka jalan bagi lawan.
Pantauan pada Kamis malam menunjukkan suasana pertandingan berlangsung serius. Sesekali peserta terlihat memperhatikan kartu lawan dengan penuh konsentrasi, seolah satu kartu saja bisa menentukan nasib mereka menuju babak berikutnya.
Dari empat meja semifinal tersebut, akhirnya lahir empat pasangan yang berhak melaju ke babak final. Mereka adalah pasangan Bupati Saipul A. Mbuinga, pasangan Wakil Bupati Iwan S. Adam, pasangan dari Dinas PUPR, serta pasangan dari Bank SulutGo Cabang Marisa.
Empat pasangan itu kemudian dibagi untuk memperebutkan posisi juara pertama dan kedua, sementara dua pasangan lainnya harus kembali bertarung untuk menentukan posisi ketiga dan keempat.
Usai kategori double dituntaskan, giliran kategori single mengambil perhatian. Kali ini tidak ada pasangan yang bisa diajak berdiskusi atau berbagi strategi. Setiap peserta harus mengandalkan kemampuan sendiri dalam membaca permainan.
Di kategori inilah Suharto Monoarfa akhirnya menunjukkan permainan terbaiknya dan berhasil mengamankan posisi pertama.
Meski persaingan berlangsung serius, turnamen tersebut tetap menjadi ruang untuk menjaga suasana kebersamaan. Bupati Pohuwato Saipul A. Mbuinga mengingatkan para peserta agar tidak menjadikan hasil pertandingan sebagai alasan untuk merusak hubungan silaturahmi.
“Ini adalah kebersamaan dalam bingkai turnamen. Artinya, meski kalah ataupun menang, kita sama-sama tetap bersatu. Dan yang namanya turnamen pasti ada yang kalah dan yang menang,” ujar Saipul.
Menurutnya, setiap peserta tentu datang dengan keinginan memenangkan pertandingan. Namun, hasil akhir tetap ditentukan oleh pola permainan, strategi, serta kemampuan masing-masing membaca langkah lawan.
“Setiap individu pasti berjuang untuk menang, tetapi pola permainan yang menentukan. Insyaallah ke depan kegiatan seperti ini bisa lebih meriah lagi. Mari kita jaga kebersamaan melalui turnamen ini,” harapnya.
Sementara itu, panitia pelaksana, Sadirun, memastikan seluruh rangkaian pertandingan untuk dua kategori telah selesai. Para juara ditentukan berdasarkan hasil pertandingan yang berlangsung dan disaksikan bersama.
Untuk hadiah atau bonus bagi para pemenang, panitia akan menggelarnya dalam acara tersendiri yang dijadwalkan dalam waktu dekat.
“Insyaallah dalam waktu dekat acara penyerahan hadiah untuk para juara akan digelar. Saat ini kita sudah menyaksikan seluruh pertandingan dan para juara dari dua kategori telah ditentukan,” kata Sadirun.
Turnamen domino tersebut akhirnya bukan hanya soal siapa yang paling banyak menang dan siapa yang harus mengakui keunggulan lawan.
Lebih dari itu, deretan kartu domino yang dimainkan sepanjang turnamen menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan sekaligus ruang bertemunya berbagai unsur di Kabupaten Pohuwato.
Ada yang pulang membawa gelar juara, ada pula yang harus puas berada di posisi berikutnya. Namun, ketika pertandingan berakhir dan kartu terakhir diletakkan di atas meja, yang tersisa adalah satu hal yang sejak awal ingin dibangun melalui turnamen tersebut, kebersamaan dan silaturahmi. (ars)












